Senin, 09 Maret 2015

Satu Tamparan Tiga Pertanyaan Terjawab




Seorang anak muda yang baru kembali ke kampung halamannya setelah belajar di luar, meminta kepada keluarganya untuk memanggil seorang Ustadz untuk menjawab tiga pertanyaan yang akan dia ajukan. Setelah mendapatkan Ustadz yang dicari, terjadilah percapakan ini.

Pemuda:
"Siapakah anda? Bisa kah anda menjawab tiga pertanyaan saya?"
Ustadz:
"Saya hanya seorang hamba Allah, dan saya akan menjawab pertanyaan anda."
Pemuda:
"Apakah anda yakin? Telah banyak ulama yang tak mampu menjawab pertanyaan saya!"
Ustadz:
"Saya akan berusaha sekuat tenaga, dengan izin Allah saya akan menjawab pertanyaanmu."

Pemuda:
"Saya punya tiga pertanyaan:
  1. Apakah Allah itu ada? Jika ada perlihatkan padaku bentuknya.
  2. Apakah itu Qodo dan Qodar?
  3. Jika setan diciptakan dari api, mengapa dia dihukum dengan dilemparkan ke dalam api, sedang itu tidak akan berpengaruh untuk dia...?"
Uztadz tiba2 langsung menampar dengan keras wajah pemuda itu.

Pemuda terkejut dan bertanya:
"Mengapa engkau menampar aku? Apa yang membuat engkau marah padaku seperti itu?"
Uztadz:
"Bukan aku marah, tapi itu lah jawaban dari ke tiga pertanyaanmu tadi."
Pemuda:
"Aku tak paham…"
Ustadz::
"Apa yang kamu rasakan setelah aku tampar?"
Pemuda:
"Tentu saja aku merasa sakit."
Ustazd:"
"Lalu, apakah kamu yakin rasa sakit itu ada…?"
Pemuda:
"Ya"
Ustadz:
"Lalu perlihatkan padaku, bagaimana bentuknya?"
Pemuda:
"Aku tak bisa."
Ustadz:
"Itulah jawaban atas pertanyaanmu yang pertama. Kita semua merasakan keberadaan Allah tapi kita tak bias melihatNYA."

Ustadz:
"Apakah kamu bermimpi kemarin bahwa aku akan menamparmu?"
Pemuda:
"Tidak."
Ustadz:
"Apakah terlintas dalam benakmu bahwa aku akan menamparmu?"
Pemuda:"Tidak."
Ustaz:
"Itulah yang dinamakan “Qodo dan Qodar “

Ustadz:"
"Tanganku yang menamparmu terbuat dari apa?"
Pemuda:
"Tanah."
Ustadz:
"Apa yang kamu rasakan setelah aku menamparmu?"
Pemuda:
"Aku merasa sakit."
Ustadz:
"Tepat sekali..! Lalu mengapa tanah dapat membuat tanah merasa sakit? Itulah kehendak Allah. Walaupun setan terbuat dari api, tapi dengan kehendak Allah api itu akan menjadi siksaan yang amat pedih bagi setan.

Sumber:
COPAS DARI:
Cheru Rasyad
(https://www.facebook.com/cheru.rasyad)
di Grup: Kajian KItab al-Hikam Ibnu Athoillah Assakandari
(https://www.facebook.com/groups/178724628959782/)

Sabtu, 07 Maret 2015

Meneladani Sosok KH. M.Ishaq Latif


 Oleh: Imam Subhi

“Hari Jumat, menjelang saya menyampaikan khutbah (masjid di lampung), terkirimlah kabar melalui BBM bahwa KH. M. Ishaq Latief telah dipanggil menghadap Ilahi Rabbi. Hari itu merupakan saksi sejarah, perpisahan sang “Pencinta Ilmu” dengan ribuan santri yang masih haus dengan kesejukan ilmu beliau.”

Alangkah indahnya, jika bisa terus bersama sosok seperti KH. Ishaq Latif,  tenang dan menyejukkan hati dan jiwa. Jikalau umur bisa ditawar layaknya sim card HP yang bisa diperpanjang masa aktifnya, mungkin saja santri Tebuireng minta diperpanjang hingga unlimited. Inilah takdir. Seperti yang sering beliau ungkapkan bahwa manusia ibarat pewayangan yang eksistensinya ditentukan oleh seorang dalang yang maha memiliki. Memang, saya bukan termasuk santri lama, yang bisa bersua dengan beliau (alm.KH.Ishaq Latief) karena baru tahun 1999 masuk Tebuireng.

Waktu itu situasi pondok masih kental dengan bangunan-bangunan tradisional sehingga ketika malam hari agak terlihat menyeramkan,maklum masih santri baru. Di awal perjalanan mondok,saya baru tau itupun info dari kakak kelas bahwa setiap ba’da isya ada pengajian kitab kuning, kiyainya sepuh tapi kocak abis. Dari situ saya penasaran masa ada kyai mbanyol sih. Malam pertama saya ikuti walupun belum punya kita nya, seingat saya waktu itu nama kitabnya ‘Tanqihul Qaul’. Pengajian yang unik,  dengan suara menggelegar, perserta membanjir hingga ke pinggir kali depan pondok, ditambah banyolan yang khas sehingga membuat peserta pengajian terkesan hidup.

Setidaknya ada beberapa ciri khas beliau yang membuat dirinya menjadi kharismatik.

PERTAMA

Istiqomah.
 Beliau sosok yang istiqomah, setiap hari setelah isya beliau rutin ngisi pengajian kitab,walaupun pesertanya pasang surut, bahkan tertidur. Kata beliau Sing penting ngurip-nguripi pesantren, ono bedone kuburan lan pondok. selain itu beliau juga punya jamaah di tempat kelahirannya sidoarjo.

Libur pengajian hanya malam selasa n jumat,atau mungkin ada undangan tausiyah, selebihnya beliau aktif terus, Seingat saya beliau tidak pernah meliburkan pengajian kalau hanya urusan remeh umpama ada final sepak bola, apalagi pura-pura sakit. Bahkan kalau sakit pun masih dipaksakan untuk ngaji. Dan terakhir ketika  sakit keras itulah libur terpanjang sepanjang pengajian berlangsung.

KE·DUA

Sederhana.
Gaya yang sederhana beliau hampir sering mengecoh santri, dengan baju khas lengan pendek, dengan percaya diri sambil menggoes sepeda ontel kesayangannya,walau sesekali bergaya anak muda dengan motor mega pro nya. gaya itu tidak memperlihatkan bahwa beliau seorang kyai yang alim. Sering santri  terkecoh temasuk penulis ketika berpapasan dengan beliau antara pasar cukir dan pondok  justru beliau lah yang menyapa duluan.

Tetapi perlu dicatat ketika beliau mau tampil ceramah beliau benar-benar perfeksionis, mulai warna dan kesesuain pakaian beliau sangat hati-hati dalam mengenakan, “tampil dimuka umum harus menarik dan berwibawa” ujar beliau.  Selain itu urusan makan pun tidak ingin selalu makan mewah n mahal, yang rutin tempe atau tahu plus teh manis satu gelas besar. Ya sesekali makan daging ayam biasanya sate H. Fakih I dan II langganannya.

Dan menurut beberapa sumber beliau pun dengan wong cilik seperti akrab dengan tukang becak yang biasa transit depan pondok maupun pasar cukir, hampir semua kenal beliau.

KE·TIGA

Disiplin dan kerja keras.
Beliau sangat menghargai waktu, terutama berkaitan dengan ilmu, tiada kata lain selain belajar dan belajar,  bahkan beliau menuturkan sendiri termasuk gila sepak bola, tapi beliau rela meninggalkan hobinya demi ilmu. Suatu ketika saya sowan setelah pengajian rutin, lagi ngobrol asyik-asyiknya, beliau langsung minta maaf pada beberapa santri yang kebetulan lagi sowan juga, untuk mengakhiri obrolan  karena sudah waktunya mutholaah. Dalam bahasa manajemen beliau mampu menentukan mana sekala prioritas mana yang sekedar senang-senang. Bagaimana dengan kita, pilih ilmu atau hobby,lanjut ngobrol atau belajar?

KE·EMPAT

Bijaksana.
Sikap yang satu ini mungkin jarang dimiliki oleh Kyai sepuh lainya, salah satunya tampak ketika menyampaikan pengajian, mengingat peserta pengajian di Tebuireng berasal dari berbagai daerah tentu kemampuan bahasa bervareasi (jawa, sunda, madura, sumatra, bali, papua, kalimantan dll) walau kebiasaan beliau terbiasa bahasa jawa,tapi beliau lebih memilih bahasa Indonesia kombinasi Jawa.  Beliau lebih berfikir bukan selesainya kitab,  tapi bagaimana isi kitab dimengerti oleh santri yang lintas kultur dan bahasa. Inilah yang di sebut dalam dunia pendidikan sebagai pendidikan transformatif. Tidak kalah hebatnya ketika beliau di ingatkan oleh santri, saat beliau keliru membacanya, beliau terima dengan lapang dada serta spontanitas beliau ucapkan ‘matur suwun mari ngene mangan’ (terima kasih habis ini makan), jawabnya dengan santai. Ini dalam konsep pendidikan disebut pendidikan partisipatif. Sungguh hebat, tak mengenyam dunia perkuliahan, tapi beliau lebih dulu mengamalkannya.

KE·LIMA

Humoris.
Keceriaan selalu ada disaat pengajian, ini yang membuat peserta gayeng ngaji dengan beliau, meskipun ngantuk sekejap bisa tidak ngantuk lagi. Gimana mau ngantuk setiap banyolan reaksi santri sangat histeria ada yang teriak, tiup peluit, terompet, pukul ember, almari dll. Entah mengapa sampai begitu, tapi itu faktanya.  Andaikata setiap guru bisa membangkitkan gairah belajar seperti beliau, maka guru dan santri akan harmonis, mungkin saja tidak akan ada kekerasan dalam proses pendidikan, apalagi cambuk.

KE·ENAM

Loyalitas Tinggi.
Mendengar dan melihat transaksi wakaf tanah untuk pondok, musholla, masjid dan panti asuhan sudah biasa. Tapi jarang yang melihat mewaqofkan dirinya untuk sebuah lembaga. Tapi beliau dengan tulus dan ikhlas mewakafkan sepanjang hidupnya untuk Pesantren Tebuireng, dan ini beliau proklamirkan pada saat penutupan pengajian Pesantren Ramadhan tahun 2010, waktu itu disaksikan oleh Gus. Sholah yang baru menerima tampuk kepengasuhan, dan ribuan peserta pengajian.

Memang tidak formal menyampaikannya, melainkan dengan gaya guyonan beliau yang ringan dan santai. Tapi bagi saya itu udah cukup untuk menggambarkan bahwa beliau adalah milik Santri Pesantren Tebuireng. Bukti cukup banyak, salah satunya disaat pra guru, pejabat ramai-ramai minimal kenaikan gaji, dan pangkat. Beliau tidak pernah demo, atau usul kepengasuh minta hal itu, tapi justru beliau lebih giat dan introspeksi diri, apakah sudah banyak yang disumbangkan untuk santri Tebuireng?. Maka benar ada ungkapan “jangan berfikir berapa banyak yang diperoleh,melainkan seberapa besar yang telah disumbangkan”.

KE·TUJUH

Alim dan pencinta ilmu.
Ajining diri dumu ing lati, ajining rogo soko busono. Ini yang beliau amalkan, maksudnya setiap beliau mengisi pengajian, dan berbicara di masyarakat semua ada dasar pijakannya. Kemudian beliau sosok yang kokoh prinsip dan mentalnya. Beliau rela meninggalkan kesenangan-kesenangan yang umumnya dicari dan dirasakan semua orang. Disaat seorang laki-laki harus berkeluarga, bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Beliau justru semakin mesra bersama tumpukan-tumpukan kitab kuning, buku, majalah, koran, serta ditemani pena yang selalu ikut disakunya, itu semata-mata demi keluasan ilmu santrinya.

Selamat jalan guru ku, semoga kita berjumpa lagi, seperti titah engkau  pada kami “anta ma’a man ahbabta”. (kamu sekalian akan berkumpul dengan orang yang kamu cintai), jika badan dapat berasua, niscaya mungkin materi bisa ku bagi,  namun karena badan tak mungkin jumpa, hanya doa yang ku panjatan.  Kami akan selalu berdoa, hanya ini yang bisa kami berikan, walaupun kami yakin tanpa do’a kami dengan amal dan keikhlasan yang engkau dedikasikan selama ini, itu sudah cukup untuk mendapat balasan yang terbaik dari sang Dalang Alam Semesta. Mengutip sastrawan  asal madura Zawawi Imron,  jangan terlena dengan asapnya sejarah, tapi jadilah apinya sejarah, yang mampu menjadi pembakar semangat kita,  terlmpau banyak keshalihan beliau, pilihannya apakah kita jadikan asap atau apinya sejarah?

Imam Subhi, Alumnus PP. Tebuireng, kini tinggal Bandar lampung, 28 februari 2015
Sumber: http://tebuireng.org/meneladani-sosok-kh-m-ishaq-latif/

Senin, 02 Februari 2015

Hukum Merayakan Hari Lahir (ulang tahun) Seseorang

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Apa hukum merayakan berlalunya satu atau dua tahun atau lebih atau kurang dari dua tahun dari kelahiran seseorang yang biasa disebut ulang tahun atau meniup lilin. Dan apa hukumnya menghadiri pesta perayaan ini. Apakah bila seseorang diundang pada acara tersebut wajib menghadirinya ataukah tidak. Berilah kami jawaban. Dan semoga Allah memberi pahala bagi Anda.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»


Alhamdulillah. Dalil-dalil syariat dari kitab dan sunnah menunjukkan bahwa perayaan hari ulang tahun termasuk bid'ah yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada asalnya dalam syariat yang suci dan tidak boleh memenuhi undangan tersebut karena hal itu berarti mendukung dan mendorong kepada kebid'ahan dan 
Allah Ta'ala berfirman:

أَم لَهُم شُرَكاءُ شَرَعوا لَهُم مِنَ الدّينِ ما لَم يَأذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَولا كَلِمَةُ الفَصلِ لَقُضِيَ بَينَهُم ۗ وَإِنَّ الظّالِمينَ لَهُم عَذابٌ أَليمٌ
am lahum syurakaau syara'uu lahum mina alddiini maa lam ya/dzan bihi allaahu walawlaa kalimatu alfashli laqudhiya baynahum wa-inna alzhzhaalimiina lahum 'adzaabun aliimun

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih."

Do they have partners [besides Allah] who have ordained for them a religion which has not been permitted by Allah? Had it not been for the conclusive word,[1] decision would have been made between them. For the wrongdoers there is indeed a painful punishment.
[1] Or ‘the final word.’ That is, Allah’s promise to provide the faithless and to grant them a respite before retribution. See 2:36,126;9:68-69;15:3;31:23-24.
 (QS. Asy Syuura [42]:21)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

ثُمَّ جَعَلناكَ عَلىٰ شَريعَةٍ مِنَ الأَمرِ فَاتَّبِعها وَلا تَتَّبِع أَهواءَ الَّذينَ لا يَعلَمونَ
إِنَّهُم لَن يُغنوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيئًا ۚ وَإِنَّ الظّالِمينَ بَعضُهُم أَولِياءُ بَعضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ المُتَّقينَ
tsumma ja'alnaaka 'alaa syarii'atin mina al-amri faittabi'haa walaa tattabi' ahwaa-a alladziina laa ya'lamuuna
innahum lan yughnuu 'anka mina allaahi syay-an wa-inna alzhzhaalimiina ba'dhuhum awliyaau ba'dhin waallaahu waliyyu almuttaqiina

"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."
"Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa."

Then We set you upon a clear course of the Law; so follow it, and do not follow the desires of those who do not know.
Indeed they will not avail you in any way against Allah. Indeed the wrongdoers are allies of one another, but Allah is the guardian1 of the Godwary.
(QS Al Jatsiyah  [45]:18-19).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

اتَّبِعوا ما أُنزِلَ إِلَيكُم مِن رَبِّكُم وَلا تَتَّبِعوا مِن دونِهِ أَولِياءَ ۗ قَليلًا ما تَذَكَّرونَ
ittabi'uu maa unzila ilaykum min rabbikum walaa tattabi'uu min duunihi awliyaa-a qaliilan maa tadzakkaruuna

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya {528}. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)."
{528} Maksudnya: pemimpin-pemimpin yang membawamu kepada kesesatan.

Follow what has been sent down to you from your Lord, and do not follow any masters besides Him. Little is the admonition that you take!
(QS. Al A'raaf [7] :3)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Ada hadits yang shahih dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, bahwa
Sesungguhnya beliau bersabda:
"Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak."
(HR. Muslim di dalam shahihnya.)

Dalam hadits lain beliau bersabda:
"Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam . Dan sejelek-jelek urusan adalah hal yang diada-adakan dan setiap kebid'ahan adalah sesat."

Kemudian perayaan ini selain bid'ah munkaroh yang tidak ada asalnya dari syariat juga di dalamnya terkandung tasyabbuh (menyerupai) dengan Yahudi dan Nashara tentang peringatan hari lahir. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah bersabda mewanti-wanti dari sunnah dan jalan hidup mereka:

"Kalian pasti akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun pasti kalian akan memasukinya." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashara ?"

Beliau menjawab:
"Siapa lagi?"
(HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahihain.)

Dan makna " Siapa lagi?" artinya merekalah orang-orang yang dimaksud dengan perkataan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam ini.

Perayaan ulang tahun adalah bid’ah. Mengapa? Ada dua landasan yang diikuti oleh umat Islam: Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. Sunnah ini kemudian terbagi atas ucapan, perbuatan, atau niat Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam yang kemudian tidak sempat terlaksana karena beliau meninggal dunia sebelum sempat melaksanakannya.

Mengucapkan selamat ulang tahun (istilah yang kemudian diarabisasikan adalah milad dan hari lahir) ini adalah salah satu hal yang tidak dituntunkan oleh teladan umat Islam, Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam.

Jika mengucapkan selamat hari lahir adalah tuntunan, Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam pasti akan membiasakan hal tersebut pada umatnya. Selain itu, tradisi perayaan ulang tahun atau hari lahir ini adalah budaya kaum nonmuslim.

Berdasarkan hadis Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam, seseorang yang mengikuti suatu kaum maka ia termasuk ke dalam golongan itu
Beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam pun bersabda:
"Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu."
(HR. Abu Daud)

Karenanya, umat muslim yang memiliki prinsip hidup yang unik tidak diperbolehkan untuk mengikuti kaum lain, apalagi kaum kafir dan nonmuslim. Kegiatan yang mengikuti tradisi umat lain dinamakan juga tasyabbuh.

Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam juga bersabda :
"Belum sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (al-Qur’an)."
(Hadits ke-41 dalam Hadits al-Arba’in karya Imam Nawawi).

Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.


Perayaan hari lahir ini telah tercipta sejak jaman Nabi Nuh as. Salah satu anaknya kemudian mengadakan perayaan hari lahirnya. Ditengarai, bahwa tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. Ini memang warisan zaman kegelapan Eropa.

Berdasarkan catatan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun. Utamanya yang punya duit.

Jadi Tradisi ulang tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam islam. Islam tak pernah diajarkan untuk merayakan ulang tahun. Kalau pun kemudian ada orang yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi dalil kalo ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Maka ini adalah argumen yang tidak tepat.


Tentang Maulid Nabi
Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya untuk merayakan maulid Nabi. Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan.
Maksudnya?
Jika kita baca buku tarikh Islam, di dalamnya terdapat catatan bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib Eropa. Sultan Shalahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena mereka sudah terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati).
Mereka bisa menjadi seperti itu karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara mereka yang tidak tahu menahu dengan perjuangan Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dan para sahabatnya.
Untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai maulid nabi.
Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia. Singkat cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit.
Dengan demikian, berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mempecundangi Pasukan Salib Eropa. Jadi Maulid nabi bukan dalil dbolehkannya pesta ulang tahun.


Ada pertanyaan seperti ini,
“Bolehkah merayakan ulang tahun dalam arti berdoa atau mendoakan agar yang berulang tahun selamat, sehat, takwa, panjang umur, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan cara dan isi doa yang syar’i, tanpa upacara tiup lilin dan sebagainya seperti cara Barat, lalu dilanjutkan acara makan-makan. Bolehkah?”

Berdoa dan makan-makan adalah halal. Tetapi bila dilakukan pada hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasyabbuh bil kuffar. Jadi di sini akan bertemu hukum haram dan halal.


Dalam kondisi seperti ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara’ menyebutkan :
“Idza ijtama’a al halaalu wal haraamu, ghalaba al haramu al halaala.”
Artinya, “Jika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang haram mengalahkan yang halal.”
(Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim).



dihimpun dari berbagai sumber.